Minggu, 02 Desember 2018

YA, Itu Kamu


Kamu, yang aku yakin tidak pernah meminta takdir untuk mempertemukanmu denganku, berkenalan denganku, berteman denganku, apalagi harus mencintai diriku. Kamu yang bahkan mengatakan dirimu sudah mati akan rasa untuk bisa menyayangi seseorang, kala itu adalah hal yang cukup mustahil untukmu bisa menjatuhkan hati kepada orang sepertiku. Begitu pun denganku, seorang yang hidup tanpa gairah akan cinta. Yang sudah letih untuk mencoba mencintai seseorang, yang hidup hanya sekadar untuk mengejar pencapaian dunia yang sudah menjadi impian dalam diri, cukup mustahil  juga untuk bisa menghabiskan waktu soal percintaan seperti ini.

Namun nyatanya, Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu. Untuk kita saling mengenal dan mengetahui karakter dari masing-masing kita. Dan, dalam perjalanannya harus kita akui bahwa terlalu banyak perbedaan diantara kita. Ya, kita memang berbeda dalam berbagai hal namun yang membingungkan ialah kita bisa tetap merasa nyaman saat bersama. Tidak pernah merasa jenuh dan kehabisan hal untuk dilakukan. Mungkin, memang banyak hal yang berbeda diantara kita, namun kita memiliki kesamaan soal arti dari cara membuat nyaman orang yang disayang atau bisa dibilang kita memiliki frekuensi cinta yang sama.

Pertemuan kita memang singkat, namun hampir seluruh momentum keadaan sudah kita lalui bersama dan saling berbagi rasa. Mulai dari hal yang tidak begitu penting, hal lucu, di kecewakan orang yang dianggap dekat, kesedihan, ketakutan dan tentu yang tidak mungkin terlewat yaitu kebahagiaan. Mungkin karena inilah kita bisa saling lebih memahami. Dan terasa dua orang yang menjadi satu.

Masih teringat sekali nada-nada gitar yang kita mainkan bersama, masih terbayang dengan jelas senyuman dan tatapan bahagia dari matamu yang menandakan bahwa kamu bahagia saat bersamaku diwaktu itu.

Dan saat ini kita dipisahkan oleh waktu dan keadaan. Sekarang kita sudah tidak dapat lagi dengan bebas melakukan kegiatan bahagia kita seperti kala itu. Namun, aku ingin kamu tahu, bahwa aku rela dalam keadaan ini bukan karena aku sudi kamu tidak lagi disini bersamaku. Tapi aku mencoba ikhlas mengalah, karna aku tahu jika saat ini kamu bersamaku maka yang ada hanyalah kepahitan dan menambah penderitaan dalam hidupmu. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang menghalangi kamu untuk tersenyum dalam menjalani hidup ini, biarlah aku yang menanggung air mata kesedihan akan kepergianmu, asal kenyamananmu disana bisa tetap terwujud. 

Satu hal yang pasti untuk kamu ketahui, kamu harus terus percaya bahwa aku memang sangat menyayangimu. Dan aku akan selalu menyediakan ruang dihati ini untuk kamu. Jadi, jika suatu saat nanti kamu benar akan kembali bersamaku, kamu tidak perlu bingung untuk mencari tempatmu dihatiku.

Teruslah tersenyum orang yang ku sayangi dengan tulus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar